Thursday, February 9, 2012

5 Mega Proyek Nasional Yang Gagal

5 Indonesian Mega Project That Failed

Sekarang sedang booming - boomingnya Mobil Nasional dengan ikonnya ESEMKA. Benarkah kita telah bangkit kembali, ataukah ini hanya ide hebat euforia sporadis sesaat yang akhirnya tenggelam?

Sekedar kilas balik untuk kembali dicermati, berikut mega proyek nasional yang akhirnya gagal...

1. Lahan Gambut Sejuta Hektar Di Kalimantan Tengah

Pengembangan kawasan ini diawali dengan penerbitan keppres nomor 82 tahun 1995 tentang pengembangan lahan gambut untuk pertanian tanaman pangan diprovinsi Kalimantan tengah . Tujuan utama penetapan tersebut adalah untuk mengkonversikan hutan rawa gambut menjadi sawah guna mempertahankan swasembada beras yang telah dicapai pada tahun 1984.

Namun sebagaimana diketahui program pembukaan lahan gambut ini tidak mengikuti kaidah kidah perencanaan sehingga menimbulkan beberapa dampak negatif dari sisi lingkungan sosial ekomoni yang mengakibatkan penghentian lahan gambut sejuta hektar ditandai dengan terbitnya keppres nomor 80 tahun 1990 tentang pedoman umum perencanaan dan pengelolaan kawasan pengembangan lahan gambut sejut hetar di kalimantan tengah

2. Menara Jakarta



Menara Jakarta adalah menara yg dibangun di Kemayoran , Jakarta Pusat. Direncanakan akan berdiri 558 m (1.831 kaki termasuk antenanya) dan akan menjadi menara berdiri bebas tertinggi di belahan bumi selatan . Pekerjaan awalnya dimulai pada tahun 1997, tapi dihentikan karena krisis ekonomi Asia .

Ketika krisis ekonomi di Asia selama 1997, industri properti Indonesia kemudian jatuh sehingga banyak proyek-proyek konstruksi yang ditunda dan dibatalkan, termasuk Menara Jakarta. Dengan dihentikan pembangunan menara ini, beton yang telah terkubur mangkrak dan daerah ini menjadi genangan lebar

3. Mobil Timor

Sebelum marak mobil ESEMKA, dulu kita pernah memproduksi mobil Timor. Memang Timor tidak sepenuhnya milik kita, melainkan kerjasama dengan KIA Korea yang kemudian dimodifikasi.

Proyek itu akhirnya gagal, selain karena masalah non-teknis seperti politik, krisis dan sebagainya, secara teknis kita tidak punya Industri spare part yang kuat, seperti Toyota, Daihatsu dan Honda di Jepang, yang memiliki puluhan ribu usaha kecil menengah (UKM) penunjang mulai dari velg hingga gear

4. IPTN



DI didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan BJ Habibie sebagai Presiden Direktur. Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985. Seteleah direstrukturisasi, IPTN kemudian berubah nama menjadi Dirgantara Indonesia pada 24 Agustus 2000.

Dirgantara Indonesia tidak hanya memproduksi berbagai pesawat tetapi juga helikopter, senjata, menyediakan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat. Dirgantara Indonesia juga menjadi sub-kontraktor untuk industri-industri pesawat terbang besar di dunia seperti Boeing, Airbus, General Dynamic, Fokker dan lain sebagainya. Dirgantara Indonesia pernah mempunyai karyawan sampai 16 ribu orang. Karena krisis ekonomi banyak karyawan yang dikeluarkan dan karyawannya kemudian menjadi berjumlah sekitar 4000 orang.

Karena dinilai tidak mampu membayar utang berupa kompensasi dan manfaat pensiun dan jaminan hari tua kepada mantan karyawannya, DI dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 4 September 2007. Namun pada tanggal 24 Oktober 2007 keputusan pailit tersebut dibatalkan. Meskipun kepailitan dibatalkan, PT DI masih saja menghadapi masalah keuangan, yang memengaruhi pembayaran gaji karyawan, sehingga sering terlambat dibayar. Bahkan, tunjangan kesehatan karyawan pun dihentikan akibat perusahaan menunggak pembayaran kepada Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, sebesar 3 milyar rupiah.

5. Pendudukan Indonesia di Timor Timur

Bagi Saya Inilah Proyek dengan kegagalan terbesar.

Pendudukan Indonesia di Timor Timur berlangsung dari Desember 1975 hingga Oktober 1999. Setelah berabad-abad dijajah Portugis, kudeta di Portugal tahun 1974 telah menimbulkan ketidakstabilan di Timor Timur. Setelah perang saudara berskala kecil, FRETILIN menyatakan kemenangan dan mendeklarasikan kemerdekaan Timor Timur pada 28 November 1975.

Dengan persetujuan Amerika Serikat dan desakan Australia, Indonesia melancarkan Operasi Seroja, sebuah operasi invasi militer ke Timor Timur pada 7 Desember 1975 dengan banyak menggunakan senjata dan perlengkapan Amerika Serikat. Hasilnya, Timor Timur menjadi provinsi Indonesia pada 17 Juli 1976.

Setelah 23 tahun mengalami dinamika dengan berbagai konflik yang tak pernah henti, pada tahun 1999 diadakan jajak pendapat untuk mengakhirinya.
Akhirnya Timor Timur menjadi negara merdeka pada 2002, sebagai hasil referendum yang diadakan oleh Presiden Indonesia B. J. Habibie pada tahun 1999 itu.



Ref: Wikipedia

No comments:

Post a Comment